Bahaya Hustle Culture Bagi Pekerja

bahaya hustle culture bagi pekerja

Gookalian – Ketahuilah bahaya Hustle Culture bagi pekerja khususnya untuk sobat sendiri. Hustle Culture dikenal dengan bekerja tanpa mengenal kata istirahat. Sebenarnya budaya inilah yang membuat negara Jepang maju bahkan urutan 2 di dunia.

Budaya ini membuat mereka bisa maju sedemikian rupa. Tapi mengapa hal ini cenderung berbahaya untuk sobat? Secara umum bekerja tanpa kenal lelah atau istirahat yang bisa gamblang membuat mengerti mengapa hal ini berbahaya ?

Bahaya Hustle Culture Bagi Pekerja

Jack Ma yang terkenal dengan Alibaba Group-nya dan tokoh lain seperti Elon Musk memperkenalkan budaya ini. Pemilik Startup dunia yang sekarang sukses tersebut telah membuat waktu bekerja melebihi normal untuk mencapai keberhasilan. Di Tiongkok, dikenal dengan budaya 996 atau bekerja jam 9 pagi sampai jam 9 malam dalam waktu 6 hari. Tentu saja hal ini menimbulkan berbagai masalah karena bekerja lebih dari 12 jam (bahkan) dalam sehari. Permasalahan psikologis, burn out hingga depresi lalu ingin bunuh diri mengintai.

Hustle Culture tidaklah sebaik yang diperkirakan jika kita melihat suksesnya Startup. Berbagai masalah dibawah ini sudah pasti menjadi alasannya:

1. Sifat Mematikan Hustle Culture

Jepang, sebuah negara dimana orang-orangnya Workaholic alias sangat mencintai pekerjaan. Termasuk perhatian mereka pada detail pekerjaan sangat bagus untuk ditiru. Tapi hal ini memangkas kehidupan mereka, kesehatan mereka tidak terjaga. Seperti yang dikatakan dalam The Guardian, Miwa Sado seorang reporter yang meninggal setelah lembur kerja 159 jam tanpa henti. Kerja berlebihan telah merenggut nyawanya.

Bekerja tak kenal lelah dan waktu menyebabkan kesehatan mental menurun. Anxiety juga depresi sebagai penyakit mental dan kondisi kesakitan yang malah membuat pekerjaan tidak efektif dan efisien.

2. Sama Sekali Tidak Produktif

Terus bekerja tanpa henti sepertinya terlihat menarik awalnya, tapi apakah benar-benar seperti itu? Banyak studi membuktikan bekerja dalam waktu yang lama hingga berjam-jam menurunkan kesehatan mental dan meningkatkan perasaan Anxiety. Jadi, hasil apa yang didapat dari pekerja sakit ketika memaksa diri untuk terus bekerja?

Karena Hustle Culture memiliki prinsip menyelesaikan sebanyak mungkin tugas dalam satu waktu. Dengan mengorbankan kualitas output hasil kerja pastinya. Apalagi pekerjaan yang dilakukan secara daring kontra kantor, secara terus menerus malah membuat kreativitas menurun.

3. Bahaya Hustle Culture Bagi Pekerja Adalah Tipuan

Sebuah review dari Australian Financial mengatakan bahwa budaya Hustle dalam pekerja hanyalah tipuan belaka. Karena mereka yang bekerja dengan Hustle Culture sebenarnya tidak melakukan pekerjaan semestinya.
Mereka yang bekerja tak kenal lelah sebenarnya malah “suram dan tereksploitasi”. Manajer atau atasan di tempat mereka bekerjalah yang sebenarnya menginginkan uang lebih banyak dengan memeras tenaga bawahannya.

Dan benarkan sobat dibayar sebanyak itu untuk pekerjaan yang tanpa kenal waktu tersebut? Jawabannya adalah meskipun bayarannya banyak, tapi apakah hidup akan nikmat jika tidak ada waktu selain bekerja?

4. Bersifat Toksik

Bangun tidur cek hp, setelah mandi ngecek lagi sampai tempat kerja masih sama. Mengurusi segala hal tentang pekerjaan. Bahkan setelah pulang, masih saja urusan pekerjaan di kantor dibawa ke rumah. Tidak ada selesainya bahkan membuat sobat tidak bisa bercengkrama dengan keluarga. Hal ini berulang terus menerus setiap hari. Itulah Hustle Culture yang Toxic dengan memaksimalkan lebih dari 100% kemampuan untuk mencapai kesuksesan.

Budaya Hustle ini memaksa orang bekerja lebih keras, lebih cepat dan lebih kuat setiap hari. Tak ada istirahat bahkan jadwal tidur hanya sedikit. Menciptakan sebuah asumsi bahwa kehidupan kita hanyalah dinilai dari produktivitas kerja bukan sebagai manusia.

Itulah beberapa ulasan tentang bahaya Hustle Culture bagi pekerja. Jika memang sobat adalah pemilik perusahaan, manusiakanlah manusia. Budaya etos kerja tinggi yang mengorbankan jiwa raga ini tidaklah baik. Pastinya ada cara lain untuk mencapai kesuksesan lebih baik daripada memaksakan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *