Alasan Millennial Mudah Terkena Sindrom Impostor

terkena sindrom impostor

Apakah sobat Gookalian tahu bagaimana orang yang terkena Sindrom Impostor? Dan mengapa begitu banyak kawula milenial yang jatuh dalam korban Sindrom Impostor? Beberapa pemikiran yang menyerang seorang anak milenial tentang kekayaan atau uang yang dimiliki:

  • Aku gak paham apa yang aku lakukan dengan uang-uangku
  • Sepertinya aku gak pantas mendapat penghasilan sebanyak ini
  • Sepertinya aku gak pantas mengeluarkan uang sebanyak ini
  • Kayaknya sih aku bakalan mengacaukan semua keuanganku

Itulah beberapa pikiran yang menyerang para milenial ketika membuka dompet atau aplikasi Mobile Banking. Perasaan Insecure ketika mengelola keuangan inilah yang dirasakan banyak para milenial. Ini perlu dipahami dan diatasi.

Tipe-Tipe Sindrom Impostor

Berikut ini beberapa sifat-sifat yang cenderung dimiliki oleh Si Sindrom Impostor. Sebuah sifat perfeksionis adalah ciri mereka yang menderita Sindrom ini. Karena terlalu sempurna dalam melakukan sesuatu, saat kesalahan kecil terjadi seseorang akan mempermalukan dirinya sendiri. Selain itu:

  • Perfeksionis
  • Genius secara alami
  • Seseorang yang berjuang sendiri (solo) dan tanpa bantuan orang lain
  • Ekspert di bidangnya
  • Superhero

Alasan Millennial Terkena Sindrom Impostor

Istilah Impostor terkenal dari permainan/game Among Us yang beberapa waktu yang lalu viral. Sindrom Impostor merupakan sebuah kondisi seseorang yang merasa tidak yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Cenderung merasa apa yang telah dicapai adalah sebuah kesalahan atau tidak seharusnya dimiliki. Hal ini sebagian dialami oleh orang-orang yang berprestasi tinggi dan sulit menerima prestasi yang dicapai. Mereka mempertanyakan apakah mereka pantas mendapatkan penghargaan tersebut yang menurut mereka terlalu tinggi (HBR dot org).

Perasaan tersebut dapat mengganggu hati dan pemikiran yang dimiliki terkait keuangan yang dimiliki dan sering terjadi pada generasi milenial. Menurut perencana keuangan di Washington DC, Maggie Germano menuturkan mereka yang mencapai karir tertentu sejak awal bahkan saat masih sekolah dan berhasil meraup banyak uang mengakui merasa ragu dari kesuksesan yang telah diperoleh. Kebanyakan dari mereka bisa menghasilkan banyak uang tapi sangat takut kehilangan semuanya.

Kenyataan Atau Persepsi Seseorang Terkena Sindrom Impostor?

Sindrom Impostor adalah hal yang biasa terjadi dan mungkin sobat rasakan juga. Menurut penelitian oleh Bravata D.M., dkk. (2019) tentang Prevalensi, Prediktor, dan Pengobatan Sindrom Impostor menyebutkan bahwa 82% orang merasa mereka pernah pada satu titik tersebut. Perasaan tersebut seringkali menyerang grup minoritas dan wanita.

Terdapat fakta tersembunyi yang mengerikan dan memalukan pada Sindrom Impostor seperti dalam kata. “Oke Baik-Baik Saja Kok” ketika seseorang telah melalui badai pandemi. Meskipun telah mengurangi pendapatan, mengeluarkannya dari pekerjaan hingga tagihan hutang. Namun mereka tetap cukup dengan finansial yang ada disaat orang lain berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.

Perasaan bahwa orang yang terkena Sindrom Impostor adalah berbeda. Sepertinya kesuksesan ini tidak seperti orang-orang terdahulu gapai. Karena memang adanya teknologi merubah hampir semua lini cara kesuksesan setiap orang di dunia. Ada sebuah tendensi bahwa mereka merasa keberhasilan ini cuma keberuntungan atau privilage dari orang sekitar termasuk orang terdekat. Padahal faktanya memang mereka dengan sindrom ini memiliki skill dan pekerja keras.

Menemukan Sebuah Jawaban

Ada sebuah contoh seorang wanita setidaknya selama 10 tahun telah membayar 700 juta anaknya yang sekolah. Ini merupakan pencapaian yang sangat bagus, akan tetapi si wanita ini malah merasa lupa untuk merayakannya dan terkadang membuang-buang uang saja dibandingkan orang seumurannya.

Dibutuhkan seorang mentor yang tepat untuk memberikan jawaban atas mereka yang mengalami Sindrom Impostor ini. Mentor yang dapat menormalisasi pemikiran mereka kembali. Atau bahkan terbuka ke orang terdekat bisa menjadi sebuah penilaian tentang apa yang telah mereka capai. Orang yang terkena Sindrom ini perlu membersihkan pikiran negatif mereka dan terus membuat progres tujuan kedepan dalam kehidupan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *