Perilaku Di Media Sosial Picu Depresi

perilaku di media sosial picu depresi

Segala kegiatan berinternet memiliki resiko tertentu, termasuk perilaku di media sosial picu depresi atau gangguan mental. Sebuah platform sosial yang jaman sekarang ini tidak jauh dari kehidupan sehari-hari kita.

Sebelumnya kita harus bertemu untuk bercengkrama, sekarang tidak perlu. Hal ini merubah cara kita dalam berkomunikasi. Selain mengubah cara menjalani kehidupan berbicara bersama, secara langsung dan tidak langsung dapat mengubah kondisi kesehatan mental sobat juga.

Perilaku Di Media Sosial Picu Depresi

Karena media sosial memiliki rekam jejak digital, mungkin sobat kepo dengan kehidupan orang lain. Dan memang kelebihan sosial media ini lah yang bisa memicu stres bahkan depresi. Gookalian berikan infonya dibawah ini.

1. Merasa Terisolasi Masuk Perilaku Di Media Sosial Picu Depresi

Media sosial adalah platform yang menyebabkan arus informasi begitu cepat mengalir. Selain dapat mendekatkan teman yang jauh, hal ini juga dapat berefek merasakan takut ketinggalan (Fear of Missing Out).

Mereka yang berpotensi mengalami depresi akan terus melihat sosial media, bahkan tidak bisa berhenti. Bahkan sampai tidak dapat membedakan momen kehidupan nyata yang seharusnya tidak memegang ponsel. Karena takut ketinggalan segala informasi inilah yang dimaksud dengan perasaan terisolasi (menurut Live Science 2017).

2. Kekurangan Tidur

Salah satu studi di tahun 2019 menyebutkan bahwa mereka (remaja) yang menghabiskan 5 jam sehari atau lebih mengakses media sosial cenderung kurang tidur. Seringkali beberapa dari kita khususnya remaja rela untuk tidur lebih larut karena untuk mengakses hal menyenangkan di sosial media.

Selain kondisi kekurangan tidur dapat menyebabkan seseorang memiliki mood yang jelek. Dengan manifestasi yang sama, kurang tidur adalah salah satu penyebab masalah tidak bahagia dalam diri dan berujung pada depresi. Penyakit mental tersebut dapat disebabkan oleh kurang tidur, begitu pula sebaliknya. Orang yang depresi menjadi sulit tidur, sebuah lingkaran setan yang sulit diputuskan.

3. Terus Mencari Informasi Di Internet

Istilah ini bernama Doom Scrolling atau perilaku keterusan mencari informasi di internet. Kegiatan Scrolling ini berhubungan dengan perasaan Fear of Missing Out atau takut jadi kudet alias kurang update.

Berhubungan dengan privasi, orang mungkin kepo apa yang dilakukannya, bersama dengan siapa dan dimana sebuah foto yang di update di sosial media. Perasaan ingin terus mencari informasi ini memunculkan hal yang tidak baik untuk kondisi hati seseorang.

Seringkali informasi yang dicari adalah yang buruk. Untuk memberi penilaian negatif pada orang lain atau rasa benci karena orang lain lebih bahagia dengan apa yang dia update di sosial media.

4. Membandingkan Kehidupan Dunia Maya

Seperti pada perilaku sebelumnya, dengan terlalu banyak mengetahui kehidupan privasi seseorang dapat membuatnya iri. Menurut Business Insider, foto-foto di sosial media membuat kita memberi penilaian bahwa hidup mereka lebih bahagia atau sempurna ketimbang apa yang kita miliki saat ini.

Merasa insecure karena kebahagian orang lain inilah muncul dari media sosial. Mereka yang membanding-bandingkan kehidupan tidak lebih dari rasa iri ingin memiliki kesempurnaan hidup orang lain. Padahal kenyataan di balik kamera atau gambar yang diup ke sosmed tidak seperti apa yang terlihat.

5. Perundungan Siber

Cyberbullying terus mengalami peningkatan dewasa ini. Apalagi Indonesia terkenal dengan negara yang tidak sopan dalam bersosial media. Intimidasi, hinaan, dan kata umpatan bisa dengan mudah dituliskan di sosial media tanpa adanya tanggung jawab.

Mereka yang sensitif dapat menjadi korban pembulian online. Perasaan tertekan akibat komentar akun anonim sekalipun dapat terjadi. Begitu banyak korban yang bahkan bunuh diri karena depresi berat. Berawal dari mencoba menggunakan media sosial untuk mencari dukungan akan tetapi malah terjadi yang sebaliknya.

Pada akhirnya perilaku diatas perlu sobat hindari untuk mencegah penyakit depresi, baik untuk diri sendiri maupun orang lain dengan mengurangi frekuensi penggunaannya. Sejalan dengan penelitian di Kanada tahun 2019 pada remaja dimana semakin tinggi waktu penggunaan semakin meningkat gejala depresi secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *